"Geology is science of the earth"

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Twitter

Sabtu

Geologi Struktur (GS Part I)



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
            Geologi merupakan ilmu yang mempelajari tetang bumi dan juga segala isinya serta aspek-aspek yang berpengaruh didalamnya. Pada dasarnya bumi ini bersifat dinamis dimana bumi ini selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
            Perubahan ini akan selalu terjadi dalam skala local maupun regional. Oleh karena sifat bumi yang selalu bergerak, maka sangatlah perlu dilakukan penelitian yang khusus terhadap pergerakan bumi ini serta pengaruh terhadap kehidupan manusia.

I.2. Maksud dan Tujuan
            Adapun maksud dari diadakan praktikum Geologi Struktur yang dilakukan di daerah Tenggarong Propinsi Kalimantan Timur, agar para mahasiswa dapat mengetahui gejala-gejala struktur yang ada di lapangan dan selanjutnya dapat menginterpretasikan berdasarkan data struktur yang telah diperoleh.
            Adapun tujuan dari diadakan praktikum Geologi Struktur yang dilakukan di daerah Tenggarong Propinsi Kalimantan Timur adalah agar :
  1. Mahasiswa dapat mengetahui kondisi struktur geologi yang ada pada daerah tenggarong dan sekitarnya.
  2. Mahhasiswa dapat menganalisa struktur-struktur geologi yang ada pada daerah penelitian berdasarkan pada pengolahan data yang telah diambil datanya.
  3. Mahasiswa dapat meengetahui macam-macam struktur pada daerah penelitian berdasarkan analisis data-data diperolehkan.
  4. Mahasiswa dapat mengetahui meknisme struktur geologi pada daerah tenggarong dan sekitarnya.

I.3. Lokasi, Waktu dan Tempat
            Secara administrative, daerah pelaksanaan praktikum berada pada daerah Ranggo, Propinsi Jambi. Praktikum Geologi Struktur ini dilaksanakan sejak tanggal,xxxx hingga tanggal xxxx di laboratorium geologi struktur Universitas xxxx.

I.4. Metode dan Tahapan Praktikum
            Dalam melakukan praktikum di daerah Ranggo dan sekitarnya dilakukan beberapa metode praktikum antara lain:

1.      Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan persiapan administrasi berupa perizinan baik dari pihak Universitas Kutai Kartanegara maupun Pemerintah daerah serta persiapan teknis menyangkut peralatan dan bahan yang digunakan selama penelitian seperti peta dengan skala yang di tentukan, kompas geologi, GPS, dan alat-alat lainnya yang diperlukan dalam kegiatan penelitian tersebut. Dalam tahap ini juga dilakukan studi literature untuk memperoleh gambaran umum mengenai daerah penelitian yang selanjutnya digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan laporan.

2.      Tahap pelaksanaan Praktikum
Pelaksanaan praktikum di lapangan merupakan tahapan pengambilan data-data geologi pada lokasi penelitian melalui pencatatan data-data geologi permukaan berupa pencatatan data lapangan pada buku lapangan, pengambilan conto batuan.

3.      T ahap Pengolahan data
Pada tahap ini semua data yang telah diamati di lapangan diolah dalam bentuk pengukuran kekar, gambar profil kekar, pengukuran kedudukan batuan, sketsa kekar, dibuat dalam laporan sementara yang selanjutnya untuk dianalisa dan di interpretasika

4.      Tahap penyusunan laporan
Setelah data-ddata diolah dan di interpretasikan, maka hasil penelitian disusun dalam suatu laporan ilmiah. Laporan ini memuat semua data lapangan, hasil analisis dan interpretasi secara sistematik berupa uraian deskriptif.

I.5. Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum geologi struktur ini antara lain :
1.      Peta lintasan
Untuk membantu Dalam mengetahui posisi dan sebagai penunjuk daerah penelitian.
2.      Kompas geologi
Kompas geologi digunakan untuk mengukur kedudukan batuan, mengukur arah atau slope.
3.      Palu geologi
Palu geologi digunakan untuk membantu mengambil sample batuan
4.      GPS ( global position system )
Digunakan untuk menentukan koordinat posisi lapangan
5.      Betel
Betel digunakan juga dalam pengambilan sample lunak
6.      Kantong sample
Kantong sample merupakan tempat untuk menyimpan sample dan memberi label sehingga mudah dikenali.
7.      Spidol permanen
Digunakan dalam pemberian label dikantong sample.
8.      Larutan HCL
Digunakan sebagai uji sifat kimiawi pada batuan, apakah bersifat karbonat atau silica.
9.      Mistar dan busur derajat
Digunakan sebagai alat untuk membantu pengeplotan data
10.  Klip board
Digunakan sebagai alas dalam pencatatan data lapangan serta alat Bantu dalam kedudukan batuan.
11.  Klip dan Hecter
Digunakan untuk menghecter kantong sampeltempat sample
12.  Kertas kuarto
Digunakan dalam pencatatan data diluar buku lapangan
13.  Buku Lapangan
Digunakan untuk mencatat data-data lapangan atau merekam data
14.  Roll meteran
Digunakan untuk mengukur jarak lintasan
15.  Lup
Digunakan untuk melihat mineral pada batuan
16.  Komparator
Merupakan alat kesebandingan dalam penamaan batuan
17.  Pita meter
Untuk mengukur dimensi singkapan
18.  Pensil warna
Digunakan untuk memberi simbol warna terhadap data litologi yang diperoleh
19.  Alat tulis menulis


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Geometri Unsur Struktur
Unsur-unsur struktur geologi di alam, yang umumnya di lapangan dijumpai berupa singkapan-singkapan struktur pada batuan yang terdeformasi, sebenarnya bentuk-bentuk geometrinya dapat disederhanakan menjadi geometri yang terdiri dari struktur bidang dan struktur garis.
Unsur-unsur secara geometris pada dasarnya hanya terdiri dari dua unsur geometris yaitu: Geometris bidang (Struktur bidang : bidang perlapisan, kekar, sesar, foliasi, sumbu lipatan, dll) dan Geometris garis (Struktur garis : goresgaris, perpotongan 2 bidang, liniasi, dll).
Pemecahan masalah-masalah yang berhubungan dengan geometri struktur bidang dan struktur garis seperti : masalah besaran arah dan sudut, jarak dan panjang dari struktur bidang dan struktur garis, misalnya : menentukan panjang dari segmen garis, sudut anatara dua garis, sudut antara dua bidang, sudut antara garis dan bidang, jarak titik terhadap bidang, jarak titik terhadap garis.
Adapun salah satu cara pemecahan masalah geometridalam geologi struktur adalah dengan metode geometri deskriptif, yang meliputi metode grafis dan proyeksi. Dimana dalam analisa dan pemecahan masalahnya bentuk dan posisi obyek struktur yang yang tadinya di alam memiliki kenampakan tiga dimensi diubah menjadi dua dimensi.
Kelemahan dari metode ini adalah ketelitiannya sangat tergantung pada faktor-faktor : skala penggambaran, ketelitian alat gambar dan tingkat keterampilan si penggambar. Namun dibandingkan dengan metode-metode proyeksi yang lain (proyeksi perspektif dan proyeksi stereografis), metode ini dapat lebih cepat untuk memecahkan masalah struktur bidang dan struktur garis karena secara langsung berhubungan dengan kenampakan tiga dimensi, sehingga mudah dipahami.
Di dalam metode grafis ini, struktur bidang dan struktur garis digambarkan pada bidang proyeksi (bidang horizontal dan vertikal) dengan cara menarik garis-garis proyeksi dan saling sejajar satu sama lain.

2.1.1 Struktur Bidang
Struktur bidang dalam geologi struktur dapat dibedakan menjadi “struktur bidang riil” dan “struktur bidang semu”.
-          Struktur bidang riil, artinya bentuk dan kedudukannya dapat diamati secara langsung di lapangan, anatara lain adalah : bidang perlapisan, bidang ketidakselarasan, bidang sesar, bidang foliasi dan bidang sayap lipatan. Bidang yang disebut terakhir ini sebenarnya merupakan kedudukan bidang-bidang yang terlipat.
-          Struktur bidang semu, artinya bentuk dan kedudukannya hanya bisa diketahui atau didapatkan dari hasil analisa struktur bidang riil yang lain, contohnya adalah bidang poros lipatan.

Dikaitkan dengan penggolongan struktur menurut waktu pembentukannya, maka dapat dibedakan menjadi struktur bidang primer dan struktur bidang sekunder. Bidang-bidang yang termasuk dalam struktur primer adalah bidang perlapisan, bidang foliasi, bidang rekah kerut (mud crack), bidang kekar kolom (columnar joint), pada batuan beku, dan lain sebagainya. Sedangkan yang termasuk dalam struktur bidang sekunder adalah bidang kekar, bidang sesar, bidang sayap lipatan.
Pada umumnya struktur bidang dinyatakan dengan istilah-istilah : jurus (srike) dan kemiringan (dip).

2.1.1.a. Definisi Istilah-Istilah Struktur Bidang
- Jurus (strike) : Arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal, besarnya diukur dari arah utara.
- Kemiringan (dip) : Sudut kemiringan terbesar yang dibentuk oleh bidang miring dengan bidang hortizontal dan diukur tegak lurus terhadap jurus.

2.1.1.b. Cara Penulisan (Notasi) dan Simbol Struktur Bidang
Untuk menyatakan kedudukan suatu  struktur bidang secar tertulis agar dengan mudah dan cepat dipahami, dibutuhkan suatu cara penulisan dan simbol pada peta geologi. Penulisan (notasi) struktur bidang dinyatakan dengan :
-          Jurus / kemiringan
·         Sistem Azimuth : hanya mengenal satu tulisan yaitu N X° E/ Y° besarnya X° antara 0° - 360° dan besarnya Y° antara 0° - 90°.
·         Sistem Kwadran : penulisan tergantung pada posisi kwadran yang diinginkan sehingga mempunyai beberapa cara penulisan, misalnya :
Sistem azimuth : N 145° E/ 30°, maka menurut sistem kwadrannya adalah : N 35° W/ 30° SW.

NO
AZIMUT
SIMBOL
KUADRAN
1
N 175° E / 25°

S 5° E / 25° SW
2
N 280° E / 15°

N 80° W / 15° NE
3
N 60° E / 20°

N 60° E / 20° SE
4
N 35° E / 10°

N 35° E / 10° SE
5
N 320° E / 35°

N 40° W / 35° NE

Table 2.1 notasi symbol

2.1.1.c. Cara Mengukur Struktur Bidang Dengan Kompas Geologi
1.      Pengukuran Jurus (strike)
Bagian sisi kompas (sisi “E”) ditempel pada bidang yang akan diukur, kedudukan kompas dihorizontalkan, ditunjukkan oleh posisi level dari nivo “mata sapi” (Bull’s Eye Level), maka harga yang ditunjuk oleh jarum utara kompas adalah harga jurus bidang yang diukur. Berilah tanda garis pada bidang tersebut sesuai dengan arah jurusnya.
2.      Pengukuran Kemiringan (Dip)
Kompas pada posisi tegak, tempelkan sisi “W” kompas pada bidang yang diukur dengan posisi yang tegak lurus jurus pada garis jurus yang telah dibuat pada butir (1). Kemudian clinometer diatur sehingga gelembung udaranya tepat berada di tengah (posisi level). Maka harga yang ditunjuk oleh penunjuk pada skala clinometer adalah besarnya sudut kemiringan dari bidang yang diukur.

2.1.1.d. Aplikasi Metode Grafis I untuk Struktur Bidang
Aplikasi yang diuraikan di sini meliputi pemecahan masalah-masalah struktur bidang antara lain :
a.       menentukan kemiringan semu
b.      menentukan kedudukan bidang dari dua kemiringan semu pada ketinggian yang sama (gambar dilampirkan)
c.       menentukan kedudukan bidang dari dua kemiringan semu pada ketinggian yang berbeda (gambar dilampirkan)
d.      menentukan kedudukan bidang berdasarkan problema tiga titik (three point problem). (gambar dilampirkan)

Adapun penjabarannya sebagai berikut :
a.      Menentukan Kemiringan Semu
Suatu bidang ABCD dengan kedudukan N X° E/ Y°, berapakah kemiringan semu yang diukur pada arah N Y° E.
-          Cara penyelesaian secara grafis :
(1)   Buat proyeksi horizontal bidang ABCD pada kedalaman “d”, yaitu dengan membuat dua jurus yang selisih tingginya “h” dengan besar kemiringan yang diketahui.
(2)   Gambar proyeksi horizontal garis dengan arah N Y° E, sehingga memotong jurus yang lebih rendah di titik  “L” (garis AL).
(3)   Buat garis sepanjang “d” melalui L dan tegak lurus terhadap garis AL (garis AK)
(4)   Hubungkan “A” dan “K”, maka sudut KAL adalah kemiringan semu.
b.      Menentukan Kedudukan Bidang dari Dua Kemiringan Semu pada Ketinggian yang Sama
Dari lokasi O, terukur dua kemiringan semu, masing-masing sebesar α°1 pada arah N X° E dan α°2 pada arah N Y° E. Tentukan kedudukan bidang ABFE.

-          Langkah-langkah/ konstruksi :
(1)   Gambarkan rebahan masing-masing kemiringan semu sesuai dengan arahnya dari lokasi O (pada kedalaman “d”).
(2)   Hubungkan titik D dengan C, maka DC merupakan proyeksi horizontal jurus bidang ABFE.
(3)   Buat melalui O garis tegak lurus DC dan memotong di L.
(4)   Ukurkan LK sepanjang “d” maka sudut KOL adalah dip dari bidang ABFE.
(5)   Kedudukan bidang ABFE adalah N Z° E/ β°

c.       Menentukan Kedudukan Bidang dari Dua kemiringan Semu pada Ketinggian yang Berbeda
Pada lokasi O ketinggia 400 meter terukur kemiringan semu α°2 pada arah N Y° E, dan pada lokasi P ketinggian 300 meter terukur kemiringan semu α°1 pada arah N X° E. Letak lokasi P terhadap O sudah diketahui.
-          Konstruksi :
(1)   Gambarkan rebahan kemiringan semu di O dan P sesuai arah dan besarnya.
(2)   Gambarkan lokasi ketinggian 300 meter pada jalur O, yaitu lokasi Q.
(3)   Garis PQ adalah proyeksi horizontal jurus bidang ABFE pada ketinggian 300 meter.
(4)   Buat melalui O garis tegak lurus PQ, yaitu garis OT
(5)   Ukurkan RT sepanjang “d”, maka sudut TOR
(6)   Maka kedudukan bidang ABFE adalah N Z° E/ β°.

d.      Menentukan Kedudukan Bidang Berdasarkan Problema Tiga Titik (Three Point Problem)
Maksudnya adalah menentukan kedudukan bidang dari tiga titik yang diketahui posisi dan ketinggiannya, dimana titik tersebut terletak pada bidang rata yang sama.  Dan bidang tersebut tidak terlipat/ terpatahkan serta ketiga titik tersebut ketinggiannya berbeda.
-          Diketahui tiga titik masing-masing : A ketinggian 750 m, B ketinggian 500 m, dan C ketinggian 200 m. untuk menyamakan interval tiap masing-masing ketinggian maka diberi titik D dengan  ketinggian 250 m. Jadi beda tinggi antara titik A, B, D adalah 250 m.
-          Ketiga titik tersebut terletak pada bidang PQRS. Tentukan kedudukan bidang PQRS.

Ø  Langkah-langkah/ Kontruksi :
(1)   Buat tiga titik dengan ketinggian yang berbeda, masing-masing titik yaitu A ketinggiannya 750 m, B ketinggiannya 500 m, dan C ketinggiannya 200 m.
(2)   Agar interval masing-masing titik sama, maka beri lagi satu titik yaitu titik D dengan ketinggian 250 m yang terletak di atas titik C.
(3)   Hubungkan ketiga titik tersebut, yaitu titik ABD. Maka akan membentuk suatu segitiga.
(4)   Dip (α) terletak antara titik A dan D yaitu pada ketinggian 500 m. Dan untuk mencari dip (α) dengan menggunakan rumus di bawah ini :

            DIP (a) = BT (BEDA TINGGI) / JARAK
                        = 750 M – 500 M / 750 M
                        = 250 / 750
                        = 0,33
Jadi tan-1 0,33 = 18,20o

2.1.2 Struktur Garis
Seperti halnya dengan struktur bidang, struktur garis dalam Geologi Struktur dapat dibedakan menjadi ” Struktur garis riil “ dan “ struktur garis semu”.
-          Struktur garis riil adalah : struktur garis yang arah dan kedudukanya dapat diamati langsung dilapangan. Misalnya : gores garis yang terdapat dalam bidang sesar.
-          Struktur garis semu adalah : semua struktur garis yang arah dan kedudukannya ditafsirkan dari orientasi unsur-unsur struktur yang membentuk kelurusan atau liniasi. Misalnya : liniasi fragmen breksi sesar, liniasi mineral-mineral dalam batuan beku, arah liniasi struktur sedimen (flute cast, cross beeding) dsb. Juga dapat dimasukkan di sini kelurusan-kelurusan sungai, topografi dsb.
Berdasarkan saat pembentukannya struktur garis dapat dibedakan menjadi “struktur garis primer” dan “struktur garis sekunder”. Dari contoh-contoh struktur garis yang disebutkan di atas, yang termasuk “struktur garis primer” adalah : liniasi atau pejajaran mineral-mineral pada batuan beku tertentu, arah liniasi struktur sedimen. Dan yang termasuk “struktur garis sekunder” adalah : gores-garis, liniasi memanjang fragmen breksi sesar, garis poros lipatan dan kelurusan-kelurusan : topografi , sungai, dsb.


Kedudukan struktur garis dinyatakan dengan istilah – istilah :
“arah penunjaman” (trend), “penujaman” (plunge), “arah kelurusan” (bearing), dan “Rake” atau “Pitch”.

2.1.2.a. Definisi Istilah-Istilah dalam Struktur Garis
-    Arah penunjaman (trend) : jurus dari bidang vertical yang melalui garis dan menunjukkan arah penunjaman garis tersebut (hanya menunjukkan satu arah tertentu).
-    Arah kelurusan (bearing) : Jurus dari bidang vertical yang melalui garis tetapi tidak menunjukkan arah penunjaman garis tersebut (menujukkan arah-arah dimana salah satu arahnya merupakan sudut pelurusannya).
-    Rake (pitch) : besar sudut antara garis dengan garis horizontal, yang diukur pada bidang dimana garis tersebut terdapat. Besarnya rake sama dengan atau lebih kecil 90o.

2.1.2.b. Cara Penulisan (Notasi) dan Simbol Struktur Garis
Untuk menyatakan kedudukan suatu struktur garis secara tertulis dan suatu cara penulisan simbol pada peta geologi.
Penulisan notasi struktur garis dinyatakan dengan: “Plunge, trend (arah penunjaman)”.
Sistem Azimuth : hanya mengenal satu penulisan yaitu Yo, N  Xo E.
-          Xo adalah “trend”, besarnya : 0o – 360o
-          Yo  adalah “plunge”, besarnya : 0o – 90o  (sudut vertical).
Sistem Kwadran : penulsan tergantung pada posisi kwadran yang diinginkan sehingga mempunyai beberapa cara penulisan, misalnya :
-          Sistem azimuth : 30, N 45o E maka menurut sistem kwadran adalah : 45o, N 45o E.
-          Sistem Azimuth : 45o, N 90o E maka menurut sistem kwadrannya adalah : 45o, N 90o E atau 45o, S 90o E.

2.1.2.c.  Aplikasi Metode Grafisi I Untuk Struktur Garis
Aplikasi yang akan dibahas di sini meliputi pemecahan masalah-masalah struktur garis, antara lain :
a.       Menentukan “pluge” dan “rake” sebuah gasis pada suatu  bidang (gambar dilampirkan).
b.      Menentukkan kedudukan struktur garis dari perpotongan dua bidang (gambar dilampirkan) .

Adapun penjabarannya sebagai berikut :
a.      Menentukan “plunge” dan “rake” sebuah garis pada sebuah bidang
Diketahui data dari hasil pengukuran didapat kedudukan N 0o E / 45o, dengan arah penunjaman  N 135o E. Dengan ketinggian 30 m, skala 1 : 10000. Tentukan besar “plunge” dan “rake”.

- Penyelesaian secara grafis
(1)   Buat proyeksi horizontal / garis tegak lurus dengan kedalaman ‘d’.
(2)   Dari titik ‘O’ buat garis dengan arah N 135o E, sehingga memotong jurus pada kedalaman ‘d’ di titik ‘C’.
(3)   Melalui ‘C’ buat garis CD (panjangnya = d) tegak lurus OC, maka sudut COD adalah garis besarnya “plunge” = 35o.
(4)   Putarlah dengan jangka dari titik O sampai ketitik A’ (garis OA’) ketitik B.
(5)   Dari B buat garis sejajar (OS), maka garis ini merupakan jurus pada kedalaman ‘d’.
(6)   Buatlah melalui C garis tegak lurus pada garis butir (5), secara memotong dititk E.
(7)   Hubungan titik ‘E’ dengan titik ‘O’ maka sudut ‘EOS’ adalh besarnya “rake” 55o.

b.      Menentukan kedudukan garis hasil perpotongan dua buah bidang
Diketahui 2 perpotongan bidang suatu pengukuran batupasir dengan kedudukan bidang yaitu N 48o E / 30o terpotong dike dengan kedudukan N 21o E / 50 NE. Tentukan kedudukan jalur perpotongannya dimana ketinggian batupasir adalah 200 m dengan skala 1 : 10000.

- Penyelesaian secara grafis :
(1)   Gambar garis jurus sesuai dengan dengan arah jurus dari batupasir dan dike serta berpotongan di A.
(2)   Gambarkan proyeksi horizontal batupasir dan dike pada kedalaman ‘d’ dengan menggunakan B’ dan C’, seningga tergambar jurus dengan kedalaman ‘d’ dari batupasir dan dike serta berpotongan di D.
(3)   Garis AD adalah proyeksi horizontal jalur perpotongan. Tentukan bearingnya, yaitu dengan mengukur sudut antara garis AD terhadap arah utara, terhitung 0o, jadi bearingnya N 0o E.
(4)   Melalui D buat garis DE (panjang = d) tegak lurus AD. Sudut DAE adalah plunge = 24o.
(5)   Putar bidang batupasir dan dike sampai posisi horizontal, maka tergambar rebahan masing-masing jurus pada kedalaman ‘d’.
(6)   Buat garis DF dan DG yang  masing-masing tegak lurus pada garis jurus.
(7)    Buat garis DF adalah rebahan AE pada batupasir dan AG adalah rebahan pada AE pada dike.
-          Sudut BAF adalah rake pada batupasir = 53o
-          Sudut CAG adalah rake pada dike = 34o
-          Jadi kedudukan garis potongannya adalah 24o, N 0o E.
Rake pada batupasir    = 53o
Rake pada dike           = 34o         

2.2 Tebal Dan Kedalaman
Penentuan tebal dan kedalaman dalam geologi struktur pada dasarnya merupakan aplikasi dari metode grafis dan goneometris.tebal merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang sejajar, yang merupakan batas lapisan batuan. Ketebalan : jarak vertical dari ketinggian tertentu ( permukaan air laut ) kearah bawah terhadap suatu titik, garis, atau bidang. Biasanya menjadi acuan untuk melakukan suatu pengeboran.

            Tebal
Tebal merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang sejajar, yang merupakan batas lapisan batuan. Secara garis besar, masalah-masalah penentuan ketebalan dapat dibedakan atau dibagi berdasarkan cara perhitungannya menjadi :
a.       Perhitungan berdasarkan pengukuran lansung.
b.      Perhitungan berdasarkan pengukuran tidak langsung

2.2.1.a. Perhitungan ketebalan  secara langsung
Perhitungan secara langsung ini dapat dilakukan di lapangan dengan syarat kemiringan lereng tegak lurus dengan kemiringan lapisan seperti :
Ø  Medan datar / tak berelief  dengan lapisan relatif tegak.
Ø  Medan vertikal dengan lapisan relatif horizontal.

2.2.1.b. Perhitungan ketebalan secara tidak langsung
Perhitungan secara tidak langsung ini dapat dilakukan sengan bermacam-macam cara tegantung pada keadaan topografi dan kedudukan lapisan batuan.
Salah satu metode yang sering diterapkan di lapangan adalah “MS (measuring section)”. Unsur-unsur yang dijumpai di lapangan yang dipakai sebagai data perhitungan geometri adalah :
-          Tebal semu (w)
-          Tebal sebenarnya (t)
-          Lebar singkapan (s)
-          Dip / kemiringan lapisan batuan (αo)
-          Besar sudut lintasan terhadap arah jurus lapisan (δo)
-          Besar sudut kemiringan lereng / slope (βo)
-          Arah kemiringan perlapisan (D)
-          Arah perlapisan (R)
Data-data yang diperoleh ini memasukkan ke dalam rumus-rumus geometri yang sesuai dengan dengan kondisi medannya apakah datar atau miring dan arah pengukuran lintasan apakah tegak lurus jurusan lapisan atau tidak.
Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan ketebalan adalah sebagai berikut :
Ø  Rumus untuk lintasan tegak lurus jurus
-          Bila lereng horizontal  (gambar 2.2.1.F), maka berlaku rumus :
t = w sin αo……………………….. (rumus 1)
-          Dip lebih besar dari pada slope (gambar 2.2.1.E), maka digunakan rumus :
            t = w sin (180 – α – β ) ……........... (rumus 2)
-         Dip  lebih kecil  dari slope (gambar 2.2.1.C), maka digunakan rumus :
      t = w sin (α + β)………………….. (rumus 3)
-     Dip lebih besar dari slope (gambar 2.2.1.D, rumusnya:
t = w cos (90o – α – β ) ……........... (rumus 4)
-     Bila kemiringan lapisan 90o (gambar 2.2.1.G, rumusnya:
t = w  cos β ……............................ (rumus 5)
-     Untuk beta lebih besar dari alfa (gambar 2.2.1.A), rumusnya:
t = w sin (β – α) …….....................  (rumus 6)
-     Untuk beta lebih kecil dari alfa (gambar 2.2.1.P), maka rumusnya:
t = w sin (α – β ) ……....................  (rumus 7)

Ø  Rumus untuk lintasan tidak tegak lurus jurus
-          Bila lereng horizontal, maka:
t = w sin β . sin α………………………..       (rumus 8)
-          Kemiringan lereng berlawanan arah  dengan kemiringan lapisan, digunakan rumus :
            t = w (sin β . cos α + cos β . sinα . sin δ) ……........... (rumus 9)
-         Kemiringan lereng searah dengan kemiringan perlapisan dan beta lebih besar dari alfa, maka digunakan rumus :
      t = w (sin β . cos α - cos β . sinα . sin δ) ……...........  (rumus 10)
-     Kemiringan lereng searah dengan kemiringan perlapisan dan beta lebih kecil dari alfa, maka digunakan rumus:
t = w (cos β . sin α . sin δ - sin β . cosα ) ……........... (rumus 10)

Untuk menentukan ketebalan suatu lapisan, maka perlu kita memperhatikan lintasan yang dilalui pada saat pengukuran, adapun tujuan melakukan lintasan ialah mengamati sebanyak mungkin keadaan geologi dan hal-hal yang dibutuhkan. Serta untuk melakukan pengukuran struktur dan pengambilan contoh batuan. Hasilnya dapat digunakan untuk membuat peta dan penampang geologi serta kolom stratigrafi. Untuk menghasilkan ketepatan yang akurat lintasan yang dilakukan harus terukur.
Untuk mengerjakan data pengukuran dengan beberapa alternatif rumus yang telah dikemukakan di atas akan memungkinkan banyak kesalahan dalam perhitungan. Hasil-hasil dari perhitungan dengan pemakaian rumus di atas apabila tidak tepat dalam menginterpretasi keadaan di lapangan maka akan menyebabkan penyimpangan yang besar dari ketebalan sebenarnya di lapangan.
Rumus dari perhitungan ketebalan secar umum, yaitu :
T = w (sin b.cos a + cos b.sin d )
Dengan catatan bila kemungkinan kemiringan lereng dan kemiringan lapisan searah maka salah satu dari beta dan gama harus negatif (yang negatif adalah angka yang lebih kecil). Kemudian apabila perhitungan ketebalan tersebut tanpa memperhatikan kemiringan lereng, kemiringan lapisan searah atau berlawanan arah dan apakah beta lebih besar dari gama atau sebaliknya, amak digunakan rumus :
T = w (sin b.cos a - cos b.sin d .cos (D – R)

            Kedalaman
Kedalaman : jarak vertikal dari ketinggian tertentu (permukaan air laut) ke arah bawah terhadap suatu titik, garis, atau bidang. Biasanya menjadi acuan untuk melakukan suatu pengeboran.
Secara garis besar, masalah-masalah penentuan kedalaman dapat dibedakan/ dibagi berdasarkan cara perhitungannya menjadi:
a.       Perhitungan berdasarkan pengukuran tegak lurus jurus perlapisan
b.      Perhitungan berdasarkan pengukuran tidak tegak lurus jurus perlapisan

2.2.2.a. Pengukuran kedalaman pada arah lintasan tegak lurus jurus lapisan
1. Medan datar/ topografi tidak berrelief
            d = l tg α
Keterangan:
d : kedalaman
l: panjang lintasan
α : Dip/ kemiringan batuan
β : slope/ kemiringan lereng
2. Medan/ topografi dengan slope
a. Dip searah dengan slope
d = l (cos b.tg a - sin b)
b. Dip berlawanan arah dengan slope
d = l (cos b.tg a + sin b)
2.2.2.b. Pengukuran kedalaman pada arah tidak tegak lurus jurus lapisan
1. Dip searah dengan slope
d = l (tg a.cos b.sin d  - sin b)
2. Dip berlawanan arah dengan slope
d = l (tg a.cos b.sin d  + sin b)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner